Nama yang Hilang dari Silsilah Tarekat pada 1977 — dan Belum Jelas Kenapa
Pada 1977, sebuah nama lenyap dari daftar panjang silsila TQN jalur Rejoso. Kiai 'Usman Al-Ishaq — tercatat di urutan ke-39 — hilang, dan peristiwa itu memicu sengketa di kalangan kiai. Sampai hari ini, dua versi silsila masih beredar berdampingan tanpa sepakat satu versi tunggal.
Dua Versi Silsila yang Beredar
Dua versi silsila Rejoso beredar: satu memuat nama Kiai 'Usman Al-Ishaq hilang setelah 1977 dan memicu sengketa, satu lagi masih mencantumkannya sebagai khalifah senior penerima bai'at. Catatan soal dua versi ini berasal dari bab akademik ANU Press yang mengutip Sukamto (1992) — masa saat Kiai Musta'in memimpin tarekat. Kedua versi ini kini tetap hidup berdampingan di kajian-kajian yang mengurai silsila Rejoso.
Versi kedua datang dari tesis UIN Sunan Ampel yang masih menyebut Usman Al-Ishaqi sebagai khalifah senior penerima bai'at. Artinya, yang berselisih bukan soal keberadaan orangnya, melainkan soal apakah ia masih tercatat dalam rantai kepengasuhan setelah tahun 1977. Kalau pembaca hanya membaca satu versi, ia bisa sampai pada kesimpulan yang sangat berbeda.
Membaca Nomor 34 sampai 40
Silsila murshid TQN jalur Rejoso — sebagaimana dimuat dalam bab buku akademik ANU Press — berurutan demikian: Ahmad Khatib Al-Sambasi di nomor 34, 'Abdul Karim (35), Ahmad Hasbullah ibn Muhammad Madura (36), Khalil (37), Romly Tamim (38), 'Usman Al-Ishaq (39), dan Musta'in Romly (40). Daftar itu berjalan dari generasi ke generasi sampai urutan keempat puluh.
Penomoran ini menarik karena menempatkan nama yang hilang persis di antara dua tokoh yang tidak dipersoalkan. Begitu satu nomor ditarik keluar, posisi nomor sesudahnya ikut bergeser — dan itulah kenapa dua versi bisa terbaca sangat berbeda meski berangkat dari daftar yang sama. Perbedaannya bukan soal siapa yang salah menulis, melainkan soal daftar mana yang sedang dibaca.
Rantai Ijazah yang Membingkai Nama Itu
Di sekitar nomor-nomor itu tercatat jalur izin yang rapi: Kiai Khalil menerima ijazah irshad untuk memimpin tarekat dari Ahmad Hasbullah di Makkah, lalu menurunkannya kepada menantunya K.H. Romly Tamim dan putranya K.H. Musta'in Romly. Rantai ini konvergen antara bab ANU Press dan jurnal Al-Araf — dua sumber lembaga berbeda menyebut urutan yang sama.
Kemursyidan Rejoso sendiri diteruskan berurutan kepada K.H. Musta'in Romly (w. 1985), K.H. Rifa'i Romly (w. 1994), dan K.H. Dimyati Romly. Di tengah sebuah rantai yang tertulis sebegitu rapi inilah, satu nama tiba-tiba berhenti muncul — dan pembacaannya jadi dua. Satu generasi berganti generasi berikutnya dengan izin yang jelas, kecuali di satu titik.
Kenapa Silsilah Bisa Diperdebatkan
Silsilah tarekat bukan akta kelahiran; ia catatan otoritas yang ditulis, disalin, dan kadang disunting ulang. Perbedaan antara dua versi Rejoso bisa berasal dari perbedaan fungsi: satu daftar disusun untuk urusan kepengasuhan, satu lagi untuk mengenang para khalifah yang pernah menerima bai'at. Menyunting daftar bisa berarti memperbarui, menyingkat, atau mengubah prioritas.
Cara paling aman membacanya adalah menampilkan kedua versi sekaligus — persis yang dilakukan catatan ANU Press dan tesis UINSA. Dengan begitu pembaca tahu titik mana yang sudah pasti, dan titik mana yang masih terbuka untuk penelitian lanjutan. Sejarah tarekat memang bergerak begitu: meyakinkan di banyak tempat, sunyi di satu titik.
Poin-Poin Penting
- Setelah 1977 nama Kiai 'Usman Al-Ishaq (nomor 39) hilang dari silsila Rejoso dan memicu sengketa — catatan ANU Press mengutip Sukamto (1992).
- Tesis UINSA masih mencantumkannya sebagai khalifah senior penerima bai'at: dua versi silsila beredar berdampingan.
- Silsila Rejoso versi ANU Press berurutan dari Ahmad Khatib Al-Sambasi (34) hingga Musta'in Romly (40).
- Rantai ijazah Rejoso tercatat rapi: Ahmad Hasbullah (Makkah) → Kiai Khalil → Romly Tamim → Musta'in Romly.
Kesimpulan
Silsilah yang diperdebatkan justru menunjukkan ia dijaga, bukan diabaikan. Satu nama yang hilang pada 1977 tidak dihapus begitu saja dari ingatan: ia tetap hidup di versi lain, di tesis, dan di pertanyaan yang belum selesai. Sejarah tarekat memang begitu — lengkap di banyak tempat, sunyi di satu titik, dan jujur soal titik itu.
Baca Juga
Pertanyaan Umum
Siapa Kiai 'Usman Al-Ishaq?
Seorang khalifah senior TQN jalur Rejoso yang tercatat di nomor 39 pada silsila murshid. Menurut catatan ANU Press mengutip Sukamto (1992), namanya hilang dari silsila setelah 1977 dan memicu sengketa; tesis UINSA masih menyebutnya sebagai penerima bai'at.
Kenapa tahun 1977 disebut-sebut?
Karena pada tahun itulah, menurut catatan ANU Press, nama itu mulai tidak muncul lagi dalam satu versi silsila Rejoso. Sumber tidak menjelaskan alasan teknisnya — yang tercatat justru dampaknya: muncul dua versi yang berbeda dan tidak disatukan sampai sekarang.
Angka nomor silsila di artikel ini dari mana?
Dari silsila murshid TQN jalur Rejoso yang dimuat dalam bab buku akademik ANU Press. Kami sebutkan lembaganya setiap kali memakai nomor, karena penomoran berbeda antar jalur silsila.
Sumber & Verifikasi kutipan diverifikasi
6 fakta di halaman ini diambil dari dossier riset berisi 99 fakta; setiap kutipan sudah dicocokkan ulang ke teks sumbernya (verifikasi 99/99).
press-files.anu.edu.au — Bab buku akademik ANU Press (press-files.anu.edu.au/press/p27971, ch03s02), memuat silsila (r1-14)ejournal.uinsaid.ac.id — Bab buku akademik ANU Press (press-files.anu.edu.au/press/p27971, ch03s02), memuat silsila (r1-17)radarjombang.jawapos.com — Al-Araf 13(2) 2016 + Radar Jombang (r2-26)