Silsilah · Seri 1

Dua Jalur, Satu Kota: Silsila Rejoso dan Tarekat Cukir yang Nomornya Berbeda

Diperbarui 05 November 2026 6 fakta bertanda sumber Verifikasi kutipan: 99/99

Satu kota, satu tarekat, dua daftar silsila. Di Jombang, jalur Rejoso dan jalur Cukir mencatat rantai guru yang sama-sama sah — tetapi begitu dibaca berdampingan, nomornya berbeda. Ini bukan kesalahan cetak, melainkan dua jalur yang memang sengaja dipisah dan ditulis sendiri-sendiri.

Silsila yang Sengaja Dipisah

Kiai Adlan Ali mendirikan organisasi Tarekat Qadiriyah Wa Naqsyabandiyah — dikenal sebagai Tarekat Cukir — dengan silsila yang terpisah dari jalur Rejoso pimpinan K.H. Musta'in. Pemisahan ini tercatat dalam dua bab dari penerbit yang sama, ANU Press: satu bab merinci jalur Rejoso, satu bab merinci jalur Cukir beserta pengorganisasinya.

Artinya tidak ada yang "palsu" di sini. Dua jalur ini dua lembaga yang sama-sama sah, tumbuh dari satu tradisi yang sama, lalu menulis daftar gurunya sendiri-sendiri. Pemisahannya sendiri tercatat jelas, bukan diduga dari luar: keduanya ditulis sebagai dua organisasi berbeda dalam kajian yang sama. Memaksa keduanya jadi satu daftar justru akan menghapus sejarah pemisahannya.

Nomor 36 dan 37 yang Hanya Muncul di Cukir

Bandingkan penomoran keduanya: keduanya berangkat dari nama yang sama — Ahmad Khatib Al-Sambasi di nomor 34 dan 'Abdul Karim di 35 — lalu bercabang di nomor berikutnya. Angka 34 dan 35 itu adalah titik persamaan terakhir sebelum dua daftar mulai berbeda. Versi Cukir memuat 'Asnawi Banten (36) dan 'Abdul Lathif Banten (37); dua nama ini tidak muncul dalam silsila Rejoso sama sekali.

Versi Rejoso di titik yang sama menulis Ahmad Hasbullah ibn Muhammad Madura (36) dan (Muhammad) Khalil (37). Angkanya serupa, isinya berbeda. Karena itu mencampur nomor dua jalur bisa membuat dua tokoh tertukar — dan silsila yang tertukar berarti izin yang tertukar. Angka yang tampak identik justru paling rawan disalah baca.

Penyebaran yang Tercatat sebagai Pusat Berbeda

Perbedaan ini terbaca juga dari pola sebarannya. Kajian jurnal mencatat penyebaran TQN di Jawa menelusuri empat pusat pada 1970-an: Suryalaya, Rejoso, Mranggen, dan Pangentongan — catatan yang dikutip dari kajian yang merujuk van Bruinessen. Sebuah artikel Al-Araf bahkan menemukan sembilan pusat dengan tambahan khalifah Syekhona Kholil Bangkalan serta sejumlah pusat baru lain.

Cukir sendiri tercatat sebagai salah satu pusat dalam daftar yang lebih luas itu. Sementara itu, jalur Rejoso yang kami jadikan narasi utama tetap dihormati sebagai jalur terpisah — keduanya bab penerbit yang sama, keduanya sah, dan keduanya tidak pernah kami gabungkan dalam penulisan. Masing-masing pusat menulis nomornya sendiri.

Cara Membaca Silsila Tanpa Tersandung

Aturan praktisnya sederhana: sebut dulu lembaga atau jalurnya sebelum menyebut nomor. "Menurut silsila Rejoso" dan "menurut silsila Cukir" adalah dua kalimat yang berbeda, meski angkanya tampak mirip. Tanpa keterangan jalur, pembaca tidak akan tahu daftar mana yang sedang dipegang. Keterangan jalur juga memudahkan pihak pesantren saat menelusuri gurunya sendiri.

Aturan kedua: jangan mencampur daftar. Rejoso mencatat rantai ijazah dari Ahmad Hasbullah di Makkah kepada Kiai Khalil, lalu kepada Romly Tamim dan Musta'in Romly; Cukir menulis urutannya sendiri dengan nama-nama yang berbeda. Dua daftar yang saling disilangkan akan menghasilkan cerita yang tidak pernah terjadi — dan itu yang paling sulit dilacak kemudian.

Poin-Poin Penting

  • Tarekat Cukir dipisahkan dari Rejoso oleh K.H. Adlan Ali dengan silsila terpisah — keduanya sah, keduanya bab ANU Press yang sama.
  • Nomor 36 dan 37 berbeda: Cukir memuat 'Asnawi Banten dan 'Abdul Lathif Banten, Rejoso memuat Ahmad Hasbullah dan (Muhammad) Khalil.
  • Keduanya berangkat dari nomor yang sama: Ahmad Khatib Al-Sambasi (34) dan 'Abdul Karim (35), lalu bercabang.
  • Penyebaran TQN di Jawa tercatat lewat empat pusat pada 1970-an: Suryalaya, Rejoso, Mranggen, dan Pangentongan.

Kesimpulan

Dua jalur di satu kota adalah pengingat bahwa silsilah tarekat hidup sebagai dokumen yang ditulis manusia. Yang membedakan bukan mana yang benar, melainkan siapa yang menulis dan untuk keperluan apa. Membaca silsila dengan menyebut jalurnya adalah cara paling sederhana menghormati keduanya sekaligus menjaga agar tokohnya tidak tertukar — bukan karena angkanya rumit, tapi karena yang dipegang di situ adalah nama orang.

Baca Juga

Pertanyaan Umum

Apakah salah satu jalur lebih sah dari yang lain?

Tidak. Keduanya berasal dari bab buku akademik penerbit yang sama dan sama-sama diakui. Yang berbeda adalah organisasi dan penomorannya — Rejoso di bawah K.H. Musta'in, Cukir di bawah K.H. Adlan Ali.

Kenapa nomornya bisa beda?

Karena daftar gurunya ditulis terpisah sejak jalur Cukir berdiri sendiri. Setelah titik Ahmad Khatib Al-Sambasi (34) dan 'Abdul Karim (35), keduanya mencatat nama berikutnya secara berbeda.

Kalau saya menemukan dua nomor untuk satu tokoh, mana yang dipakai?

Sebutkan dulu jalurnya. Nomor silsila selalu relatif terhadap lembaga penerbit daftar itu; artikel ini memakai jalur Rejoso sebagai narasi utama dan menulis Cukir sebagai jalur terpisah.