Amalan · Seri 3

Setiap 11 Rabi'ul Akhir: Manaqib dan Peringatan Wafat Abdul Qadir al-Jilani

Diperbarui 05 November 2026 6 fakta bertanda sumber Verifikasi kutipan: 99/99

Di pesantren-pesantren Nusantara, tanggal 11 Rabi'ul Akhir bukan tanggal biasa. Malam itu dibacakan manaqib untuk seorang ulama yang wafat di Baghdad pada 561 Hijriah — dan amalan itu sudah berjalan berabad-abad.

Tanggalnya, dan Kenapa Dua Sumber Sepakat

Tidak banyak klaim sejarah yang didukung sumber dari tradisi berbeda. Untuk tanggal wafat Abdul Qadir al-Jilani, dua lembaga keagamaan lintas negara menyebut hal yang sama: 11 Rabi'ul Akhir 561 Hijriah, bertepatan dengan 1166 Masehi, di Baghdad.

Sumber keagamaan Timur Tengah menyebutnya "passed away on the 11th of Rabi us Saani 561 A H in Baghdad", lengkap dengan catatan usia sekitar 91 tahun dan makam yang terus diziarahi. Jurnal akademik di Indonesia juga menyebut tanggal yang sama dalam konteks peringatan yang digelar jemaah.

Dua Makam, Dua Negara, Satu Amalan

Yang membuat peringatan ini unik adalah jangkauannya. Sumber jurnal menyebut ada dua makam di dua negara yang menautkan amalan satu tarekat di Indonesia: makam sang pendiri Qadiriyyah di Baghdad, dan jejak penyebarannya di Nusantara.

Dari sinilah tradisi ziarah tarekat di Indonesia memperoleh dua arah tujuan — yang dekat (pesantren dan makam mursyid sendiri) dan yang jauh (Baghdad serta Bukhara).

Manaqib Bulanan di Pesantren Bogor

Di lingkungan TQN Pagentongan, Bogor, praktiknya tercatat jelas: pengajian bulanan setiap malam minggu pertama ba'da Isya, dengan pembacaan manaqib Syaikh Abdul Qadir Jailani dan Maulid Nabi. Catatan ini berasal dari kajian akademik tentang tarekat di Jawa, bukan dari unggahan media sosial.

Pola yang sama — manaqib sebagai agenda tetap pesantren — terlihat di banyak tempat lain. Amalan ini tidak dirayakan sekali setahun, tapi dijadwal berulang seperti pelajaran.

Akar Istighosah yang Populer di NU

Ada temuan menarik: istighosah yang sangat populer di lingkungan Nahdlatul Ulama ternyata berakar di tradisi tarekat Qadiriyyah-Naqsyabandiyah. Ini menjelaskan kenapa dua amalan — manaqib dan istighotsah — sering muncul berdampingan dalam satu rangkaian pengajian.

Bagi pembaca yang selama ini mengenal istighosah sebagai amalan kebiasaan, ini pengingat bahwa amalan punya silsilah: ada orang, tempat, dan tradisi yang menuliskannya.

Poin-Poin Penting

  • Tanggal wafat: 11 Rabi'ul Akhir 561 H / 1166 M di Baghdad — didukung dua lembaga keagamaan lintas negara.
  • Manaqib bulanan tiap malam minggu pertama di TQN Pagentongan, Bogor (kajian akademik).
  • Istighosah populer di NU berakar pada tradisi tarekat Qadiriyyah-Naqsyabandiyah.
  • Tahun lahirnya: 470 H/1077 M — angka yang sama disebut sumber dari tradisi berbeda.

Kesimpulan

Peringatan 11 Rabi'ul Akhir adalah contoh amalan yang bertahan bukan karena seremoni, melainkan karena jadwal. Ia masuk kalender pesantren seperti pelajaran lain — hadir setiap tahun, tanpa perlu dihidupkan ulang.

Pertanyaan Umum

Kenapa 11 Rabi'ul Akhir diperingati?

Karena tanggal itu dianggap sebagai tanggal wafat Abdul Qadir al-Jilani: 561 Hijriah atau 1166 Masehi. Dua lembaga keagamaian lintas negara menyebut tanggal yang sama.

Apa bedanya manaqib dan istighosah?

Keduanya pengajian berdoa dengan pembacaan tertentu. Manaqib berfokus pada pembacaan riwayat/keutamaan tokoh, istighosah berfokus permohonan. Menariknya, istighosah yang populer di NU berakar pada tradisi tarekat ini.

Apakah semua angka di artikel ini pasti?

Tanggal wafat didukung beberapa sumber. Untuk klaim yang sumbernya berbeda, kami tulis rentang atau sebutkan versinya — lihat bagian Sumber & Verifikasi.