Sejarah Angka · Seri 2

470 H atau 1077 M? Ini Bukan Konflik, Cuma Beda Kalender

Diperbarui 05 November 2026 6 fakta bertanda sumber Verifikasi kutipan: 99/99

Satu tahun lahir ditulis 470 H di satu sumber, dan 1077 M di sumber lain. Kelihatannya saling bertentangan — padahal keduanya menunjuk orang yang sama, pada tahun yang sama. Ini contoh paling bersih tentang cara membaca angka sejarah.

Dua Angka, Satu Peristiwa

Abdul Qadir al-Jilani — pendiri tarekat Qadiriyya, salah satu tarekat Sufi tertua — lahir menurut satu sumber pada 470 Hijriah, dan menurut sumber lain pada 1077 atau 1078 Masehi. Dibaca cepat, dua angka ini kelihatan saling bertentangan dan siap dipilih salah satu. Padahal pertanyaannya bukan "mana yang salah", melainkan "apa yang ditulis dalam satuan apa".

Ternyata tidak saling bertentangan. 470 Hijriah jatuh pada rentang 1077–1078 Masehi, sehingga kedua penulisan adalah satu peristiwa dengan beda format kalender. Ia menghabiskan sebagian besar hidupnya di Baghdad: belajar fiqh dan hadis, mengajar di madrasa, lalu dikenal lewat khotbah tentang penghayatan ibadah dan etika. Cerita hidupnya sama di kedua sumber; yang beda hanya format tahun kelahirannya. Bahkan statusnya sebagai pendiri tidak diperdebatkan: sumber keagamaan dan sumber akademik sama-sama menempatkannya sebagai sosok yang menurunkan tarekat Qadiriyya, salah satu tarekat tertua dalam tradisi Sufi.

Kenapa Batasnya Bisa Meleset Setahun

Kalender Hijriah tidak sinkron dengan kalender Masehi — tahun Hijriah lebih pendek, sehingga satu tahun Hijriah sering mendarat di dua tahun Masehi. Karena itu penulis boleh memilih sisi mana pun, 1077 atau 1078, tanpa ada yang salah. Yang tidak bermakna justru mencampur keduanya seolah dua angka itu bersaing padahal keduanya menjelaskan tahun yang sama.

Begitu kedua kalender ditulis berdampingan — 470 H/1077 M — pembaca bisa melihat sendiri bahwa keduanya merujuk hal yang sama dan tidak perlu menebak-nebak. Inilah alasan kenapa format ganda begitu sering dipakai dalam kajian sejarah Islam: ia tidak memaksa pembaca percaya, melainkan memberi mereka alat untuk memeriksa sendiri. Buku sejarah yang menulis "470 H" dan buku yang menulis "1077 M" sesungguhnya menceritakan hal yang sama dengan aksen yang berbeda.

Contoh Lain: 561 H = 1166 M

Pola yang sama muncul di tanggal wafatnya: 11 Rabi'ul Akhir 561 Hijriah, yang dalam tarikh Masehi jatuh pada 1166, di Baghdad. Dua lembaga keagamaan lintas negara menyebut tanggal yang sama, dan jurnal di Indonesia memakainya dalam konteks peringatan yang digelar jemaah. Dua kalender, satu tanggal, ditulis lengkap berdampingan.

Makamnya di Baghdad terus diziarahi ratusan ribu orang setiap tahun, dan hari wafatnya dipakai sebagai momentum bacaan Al-Quran, dzikir, dan shalawat. Peringatan itu dijadwalkan dengan kalender Hijriah — tanggal 11 setiap Rabi'ul Akhir, bukan tanggal Masehi. Kalau jadwalnya ditulis ulang dalam tarikh Masehi, ia akan bergeser setiap tahun; di sinilah kalender Hijriah justru lebih praktis. Karena itu peringatan itu tidak pernah kehilangan tanggalnya: ia datang kembali setiap tahun pada hari yang sama dalam kalender Hijriah, berapa pun angka Masehi-nya.

Kapan Beda Kalender Jadi Konflik Sungguhan

Perbedaan format baru jadi masalah kalau dua sumber menyebut peristiwa yang berbeda. Sebagai banding: tahun wafat pendiri TQN dicatat empat jurnal dengan empat tahun yang berbeda — di sana benar-benar ada pilihan yang harus dibuat, dan redaksi memilih 1292 H/1875 M karena didukung tiga lembaga lintas institusi.

Aturan main kami karenanya dua: kalau bedanya hanya format kalender, tulis dua-duanya (470 H/1077 M). Kalau bedanya tahun peristiwa, pilih angka dengan dukungan sumber terbanyak lalu sebutkan varian lain. Pembaca yang tahu aturan ini bisa menilai sendiri mengapa satu artikel menulis rentang sementara artikel lain menulis satu angka — keduanya bukan kebetulan. Yang kami hindari hanya satu: menutup perbedaan seolah tidak pernah ada, karena justru perbedaan itulah yang mengajarkan pembaca cara menilai sumber.

Poin-Poin Penting

  • 470 H = 1077–1078 M: beda format kalender, bukan beda tahun kelahiran.
  • Tahun Hijriah lebih pendek dari Masehi, sehingga satu tahun Hijriah bisa jatuh di dua tahun Masehi.
  • Wafat 11 Rabi'ul Akhir 561 H/1166 M di Baghdad — dua format kalender ditulis berdampingan.
  • Kalau bedanya peristiwa, bukan format, barulah konflik — seperti tahun wafat pendiri TQN.

Kesimpulan

Tidak semua angka yang beda itu berlawanan. Begitu kita tahu bahwa 470 Hijriah memang berada di rentang 1077–1078 Masehi, pertanyaannya bukan "mana yang benar", melainkan "sumber ini memakai kalender yang mana". Konflik angka yang asli baru terjadi kalau dua sumber menyebut dua peristiwa berbeda — dan di situlah redaksi harus memilih.

Baca Juga

Pertanyaan Umum

Lahir tahun berapa Abdul Qadir al-Jilani?

Tulisannya 470 H/1077 M. Sumber yang menulis 1077 atau 1078 Masehi sebenarnya merujuk tahun yang sama, karena 470 Hijriah membentang di rentang 1077–1078 Masehi.

Kalau ada dua tahun, mana yang benar?

Keduanya. Ini bukan perbedaan fakta, melainkan batas konversi antar kalender; karena itu kami tulis dua-duanya berdampingan.

Apa bedanya dengan tahun wafat pendiri TQN?

Di sana empat jurnal menyebut empat tahun yang berbeda sebagai peristiwa — bukan soal format kalender. Karena itu redaksi memilih angka dengan dukungan sumber terbanyak: 1292 H/1875 M.