Destinasi · Seri 3

Makam Tokoh Makassar di Cape Town: Dari Pembuangan ke Situs Diplomasi Budaya

Diperbarui 05 November 2026 4 fakta bertanda sumber Verifikasi kutipan: 99/99

Ribuan kilometer dari Makassar, di kawasan Macassar, Cape Town, berdiri kompleks makam seorang ulama dari Sulawesi Selatan. Pada 31 Oktober 2025 Menteri Kebudayaan RI berziarah ke sana — sebuah kunjungan yang menandai tempat ini bukan sekadar nisan di ujung benua.

Seorang Ulama yang Berakhir di Ujung Selatan Afrika

Syaikh Yusuf Al-Makassari dikenal sebagai ulama sekaligus tokoh yang terlibat dalam perlawanan. Kajian akademik mencatat ia memimpin perlawanan bersenjata melawan kekuatan Belanda, lalu ditangkap dan dibuang — pertama ke Ceylon, kemudian ke Afrika Selatan. Di sanalah ia wafat menurut kajian tersebut, pada 1699. Perjalanan inilah yang menjelaskan kenapa seorang ulama dari Sulawesi Selatan punya tempat peristirahatan di ujung benua Afrika. Peta hidupnya membentang dari Makassar ke Ceylon, lalu ke ujung selatan benua — rute yang tidak pernah ia pilih sendiri.

Ia juga ulama lintas tarekat. Sumber akademik menyebut ia mempelajari Qadiriyah, Naqsyabandiyah, Syattariyah, dan Khalwatiyah, meski pengajarannya paling banyak pada Khalwatiyah. Beberapa risalah tentang praktik ritual tarekat pun ditulisnya, dan manuskrip karyanya kini disimpan di Perpustakaan Nasional Indonesia. Dua hal ini — kiprahnya dan karya tulisnya — yang membuat sosoknya terus dibaca jauh setelah ia dimakamkan di tanah pembuangannya.

Macassar, Cape Town: Ziarah di Benua Lain

Kompleks makamnya berdiri di kawasan Macassar, Cape Town, Afrika Selatan — jarak yang menyeberangi dua benua dari kota kelahirannya. Menurut siaran pers Kemenbud yang diberitakan kantor berita nasional, Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon berziarah ke makam Syaikh Yusuf Al-Makassari pada Jumat 31 Oktober 2025. Karena tanggal ini berasal dari rilis resmi, kami bisa menuliskannya tanpa ragu.

Bersamaan dengan itu direncanakan pembangunan rumah budaya seluas 2.000 meter persegi di dekat kompleks makam. Angka luas ini pun kami tulis persis seperti sumbernya: hanya didukung satu rilis resmi, bukan liputan panjang dari beberapa lembaga. Untuk klaim yang bersandar pada satu sumber, cara paling jujur adalah menyebutkan asalnya — bukan menyembunyikannya supaya terdengar lebih pasti.

Dari Tempat Pembuangan Menjadi Titik Temu

Kunjungan seorang menteri membaca ulang makam ini. Yang semula tercatat sebagai tempat peristirahatan seorang pembuang, kini berfungsi sebagai titik pertemuan dua negara dengan riwayat kolonial yang panjang. Dalam konteks ini ziarah bekerja seperti bahasa bersama: datang, menghormati, lalu bicara. Situs yang dulu berkaitan dengan pembuangan kini berkaitan dengan undangan — perubahan bacaan itulah yang menjadikan makam ini lebih dari sekadar objek sejarah kolonial.

Rencana rumah budaya seluas 2.000 meter persegi memperkuat arah itu — makam diberi ruang kegiatan, bukan hanya batu nisan. Bagi jemaah tarekat, ini menambah alasan untuk berkunjung: selain berdoa, ada tempat untuk bertemu dan belajar. Setidaknya, begitu pola yang terlihat dari rencana ini — tempat ziarah bertahan dalam ingatan kolektif ketika ia tetap dipakai orang hidup, bukan hanya dikunjungi pada hari peringatan.

Dua Pintu untuk Menelusuri Sosoknya

Warisan tokoh ini tidak hanya bisa dikunjungi lewat nisan. Risalah yang ia tulis tentang praktik ritual tarekat disimpan di Perpustakaan Nasional Indonesia, sehingga ada dua pintu untuk menelusurinya: kompleks makam di Cape Town, dan naskah di Jakarta. Bagi pembaca Indonesia, jalur kedua jelas yang paling mudah dijangkau — jalur pertama menunggu bila suatu saat sempat menyeberangi benua. Menariknya, dua pintu itu melengkapi satu sama lain: naskah menjelaskan apa yang ia ajarkan, sementara nisan mengingatkan di mana riwayat hidupnya berakhir.

Soal catatan waktu, artikel ini memakai tanggal kunjungan dan luas lahan sesuai siaran pers resmi (31 Oktober 2025 dan 2.000 meter persegi), sementara tahun wafat 1699 berasal dari kajian akademik. Bila sumber berbeda soal suatu hal, kami menuliskannya apa adanya daripada memaksa satu versi. Bukan keraguan pada sejarahnya, melainkan penghormatan pada cara kerja sejarah.

Poin-Poin Penting

  • Syaikh Yusuf Al-Makassari dibuang ke Ceylon lalu Afrika Selatan dan wafat pada 1699 (kajian akademik).
  • Kompleks makamnya berada di kawasan Macassar, Cape Town, Afrika Selatan.
  • Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon berziarah ke sana pada 31 Oktober 2025 (siaran pers Kemenbud).
  • Rumah budaya seluas 2.000 m² direncanakan dibangun di dekat kompleks makam.

Kesimpulan

Sebuah makam di Cape Town menyimpan dua cerita sekaligus: cerita orang yang dibuang jauh dari tanah airnya, dan cerita sebuah negara yang kini menjadikannya tempat bertemu. Ziarah ke sana bukan sekadar mengenang — ia juga cara paling sederhana menjaga satu titik sejarah agar tidak lepas dari perhatian.

Baca Juga

Pertanyaan Umum

Siapa Syaikh Yusuf Al-Makassari?

Ulama dan tokoh Makassar yang memimpin perlawanan bersenjata melawan Belanda, lalu dibuang ke Ceylon dan Afrika Selatan, dan wafat di sana pada 1699 menurut kajian akademik.

Apa yang terjadi di kompleks makam ini pada 2025?

Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon berziarah ke makamnya di Macassar, Cape Town, pada 31 Oktober 2025, dan direncanakan pembangunan rumah budaya seluas 2.000 meter persegi di dekat kompleks makam.

Di mana karya-karyanya bisa dibaca?

Sebagian manuskrip risalahnya tentang praktik ritual tarekat disimpan di Perpustakaan Nasional Indonesia, sehingga penelusuran bisa dilakukan lewat naskah — selain lewat kunjungan ke makamnya.